Ethical Consumer, Gaya Hidup 2010
Hadirnya pusat perbelanjaan mengiming-imingi para pecandu belanja dengan diskon besar, di iklan-iklan media. Bagi yang tidak tahan godaan, hal ini bisa berakibat fatal. Bagaimana cara menyiasatinya?
Hadirnya pusat perbelanjaan mengiming-imingi para pecandu belanja dengan diskon besar, di iklan-iklan media. Bagi yang tidak tahan godaan, hal ini bisa berakibat fatal. Bagaimana cara menyiasatinya?
Memang tak mudah ketika melihat baju branded yang didiskon hingga hampir setengah harga. Baju-baju tersebut serasa berteriak "beli aku sekarang juga, atau kamu akan menyesal!.
" Tapi cobalah berpikir kembali, apakah memang perlu membeli baju baru sedangkan koleksi baju Anda di lemari masih terlihat apik?
Begitu juga dengan dilema label "buy 1 get 1 free." Para shophaholic rela mengantri berjam-jam untuk membeli barang yang dilabeli lebih "murah" dari hari biasanya itu.
Iklan memang dibuat untuk menarik perhatian konsumen. Sehingga konsumen akan terbujuk, dan berminat membeli produk yang ditawarkan. Namun, apakah kita harus selalu menjadi konsumen yang konsumtif?
Pertimbangan konsumen memilih produk atau jasa lewat iklan memang berbeda satu sama lain. Namun kini, ketika resesi masih menghimpit, dan dunia semakin saling terkait, terintegrasi, berdampak (baik atau buruk) bagi banyak hal.
Maka inilah saat yang tepat untuk lahirnya gerakan yang dikenal dengan ethnical living atau gaya hidup beretika, gaya hidup yang berupaya untuk seminimal mungkin menimbulkan kerugian bagi manusia dan lingkungannya. Sedangkan orang yang melakukannya disebut ethnical consumer.
Sebelum membeli produk atau mengenakan jasa, ethical consumer cenderung akan mencari informasi selengkap mungkin sebelum menjatuhkan pilihan. Ditambah lagi dengan jeli memilih produk yang akan dibeli ataupun digunakan.
Seperti dikutip dari Respect, Minggu (27/12/09), ethical consumer biasanya memliki karakteristik sebagai berikut.
Positive buying
Memilih menggunakan produk yang dihasilkan sesuai dengan standar etika. Meskipun tidak baku dan terbuka sangat luas, sejumlah standar itu diantaranya :
1. Menggunakan bahan yang dapat didaur ulang.
2. Berdasarkan prinsip perdagangan adil (fair trade).
3. Berasal dari pertanian organik (organic food).
4. Mendukung kelompok perempuan ataupun kelompok minoritas.
5. Tidak menyakiti hewan.
6. Menghormati kepercayaan / ajaran agama.
7. Menggunakan kayu dari hutan yang terjamin keberkelanjutannya.
Moral boycott
Menghindari dan memboikot barang dan jas yang proses pembuatannya tidak sesuai etika (termasuk melanggar hak asasi manusia). Langkah boikot disebut juga sebagai 'attack mode', dimana konsumen mendorong dengan keras agar produsen berubah.
Gerakan untuk memboikot produk Nestle karena mempromosikan susu formula lebih baik dari air susu ibu pada pertengahan 70-an, hingga 80-an merupakan salah satu contoh klasik tentang kekuatan konsumen dalam mendorong perubahan. Apa pun langkah yang dipilih keduanya dapat menciptakan perubahan yang lebih. Konsumen bisa memilih sesuai dengan gaya dan situasi yang hadapi.
Nah, apakah Anda sudah menjadi ethical consumer? (nov)
